Laworo, idekata.co.id – 14 Juni 2026, Ketergantungan pada rumput musiman dan pencatatan usaha yang belum teratur mulai ditinggalkan Kelompok Tani-Ternak SAMATURU di Desa Kampobalano. Melalui program pemberdayaan bersama Universitas Halu Oleo dan Pemerintah Desa, peternak kini belajar menanam hijauan unggul, membuat silase, mengolah pupuk organik, hingga membukukan usaha secara sederhana.
Desa Kampobalano memiliki peran besar dalam peternakan sapi potong di Kecamatan Sawerigadi. Dari total 2.920 ekor sapi, sekitar 476 ekor berada di desa ini. Namun jumlah ternak yang besar belum diimbangi dengan sistem pakan dan manajemen usaha yang stabil.
Dari Lahan Kosong Menjadi Kebun Pakan
Selama ini 10 anggota Kelompok SAMATURU memelihara rata-rata 9–20 ekor sapi per orang. Mereka memiliki lahan 2–3 hektare, tetapi 1–1,5 hektare di antaranya belum dimanfaatkan optimal.
Tim Universitas Halu Oleo yang terdiri dari Dr. La Ode Muh. Munadi, S.Pt.,M.Pt.; Ir. La Ode Sahaba, S.Pt., M.Pt., IPM.; dan Dr. drh. Yamin Yaddi, M.Si. kemudian memfasilitasi pembuatan demplot. Lahan dibersihkan, diberi pupuk organik, dan ditanami tiga jenis hijauan: rumput gajah, rumput odot, dan pakchong.
Demplot bukan sekadar petak pajangan. Di sinilah peternak belajar menyiapkan lahan, menanam, memanen, sampai menilai pertumbuhan hijauan. Lahan kosong tidak lagi dianggap sisa, tapi aset produksi,” jelas tim pengabdian.
Cadangan Pakan Lewat Silase
Untuk mengatasi fluktuasi pakan saat musim berubah, peternak diperkenalkan teknologi silase. Hijauan dicacah menggunakan mesin pencacah AGR CH65 750 watt berkapasitas 500–1.000 kg/jam, lalu difermentasi dalam kondisi minim udara. Dengan cara ini sebagian hasil panen bisa disimpan sebagai cadangan saat rumput segar sulit didapat.
Limbah Jadi Pupuk, Usaha Jadi Tercatat
Program ini juga mendorong pemanfaatan feses sapi menjadi pupuk organik secara konsisten. Selain mengurangi limbah, pupuk ini dipakai untuk menyuburkan demplot hijauan.
Bagian penting lainnya adalah pembukuan sederhana. Sebelumnya catatan biaya, kondisi ternak, dan hasil usaha masih terbatas. Melalui pelatihan, peternak mulai membiasakan mencatat agar keputusan usaha tidak hanya bertumpu pada ingatan dan kebiasaan.
Pendekatan belajar sambil bekerja ini diharapkan membuat pengetahuan bisa diulang oleh anggota kelompok. Teknologi hanya memberi manfaat jika prosesnya bisa dirawat dan dicatat secara konsisten.
“Ketika pakan tumbuh secara terencana dan usaha tercatat, peternak punya dasar untuk mengatur panen, pembagian pakan, dan menghadapi musim paceklik dengan lebih siap,” tambah tim.
Program ini menjadi model bagaimana integrasi demplot pakan, pengolahan limbah, dan administrasi usaha sederhana dapat meningkatkan ketahanan usaha peternak sapi potong di wilayah pedesaan.
Kegiatan ini merupakan kerja sama Skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat, ruang lingkup Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat, antara Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi dengan Universitas Halu Oleo Tahun 2026.
Narahubung:
Dr. La Ode Muh. Munadi, S.Pt.,M.Pt.
Universitas Halu Oleo
Reporter: Muh. Aswan Uruti












