Laworo,Idekata.co.id, 31 Agustus 2026 — Menyikapi pemberitaan dan hasil laga Final Turnamen Sepak Bola Kaki HUT RI ke-81 Tingkat Kecamatan Sawerigadi antara Warondo Family FC vs Nihi FC, Club Desa Nihi menyampaikan klarifikasi dan sikap resmi.
Kronologi keberatan terhadap kepemimpinan wasit pada saat jeda dan di tengah jalannya pertandingan, tim pelatih dan pemain Nihi FC melakukan komunikasi dengan wasit terkait beberapa keputusan yang dinilai merugikan.
Dalam komunikasi tersebut kami mendengar langsung pernyataan dari wasit yang menyebutkan merasa “takut kepada orang Warondo”. Pernyataan ini kami nilai mencederai prinsip netralitas dan independensi seorang pemimpin pertandingan.
“Atas dasar itulah kami mengajukan protes resmi kepada panitia. Setelah berdiskusi dengan Bapak Camat Sawerigadi dan panitia pelaksana, kami memutuskan tidak melanjutkan babak kedua karena tidak merasa aman dan adil dalam melanjutkan pertandingan,” ujar Lisman, Pelatih Nihi FC
Tanggapan Atas Pernyataan Camat Sawerigadi Club Desa Nihi mengapresiasi dan berterima kasih atas pengakuan Bapak Camat Sawerigadi La Sagala yang telah mengakui adanya kesalahan dalam penunjukan dan pengawasan kinerja wasit pada laga final tersebut.
Kami juga menerima permohonan maaf yang disampaikan beliau kepada masyarakat, kedua tim, dan panitia. Sikap kesatria ini kami nilai sebagai bentuk tanggung jawab pemerintah kecamatan dalam menjaga marwah HUT RI ke-81.
Menghormati keputusan Panitia Pelaksana yang mengacu pada regulasi turnamen. Namun demikian, kami sependapat dengan pandangan Bapak Camat Sawerigadi.
Mengingat pertandingan belum selesai dan skor masih 1-1, maka status Juara 1 Bersama adalah keputusan yang paling adil dan bijaksana. Gol penyama kedudukan Warondo terjadi dalam situasi kepemimpinan wasit yang saat itu sudah menimbulkan persoalan dan keresahan.
Lagi, terkait ambisi Warondo Family FC untuk menjuarai turnamen, Club Desa Nihi menghargai semangat dan ambisi setiap tim untuk meraih prestasi. Ambisi untuk menjuarai turnamen adalah hal yang wajar dalam olahraga.
Namun, kami menyayangkan jika ambisi tersebut dilakukan dengan cara yang menekan perangkat pertandingan dan menimbulkan suasana tidak kondusif. Kami juga menyayangkan adanya upaya pengumuman diri sebagai juara secara sepihak sebelum ada keputusan resmi panitia maupun kecamatan.
Bagi kami, juara sejati bukan hanya soal piala, tetapi juga soal bagaimana prosesnya dijunjung tinggi.
Kemudian club Desa Nihi menegaskan bahwa tindakan kami bukan untuk memecah belah persaudaraan antar desa di Kecamatan Sawerigadi. Kami tetap menjunjung tinggi nilai sportivitas, persatuan, dan semangat HUT RI.
Harapan kami ke depan:
Panitia turnamen berikutnya lebih selektif dan tegas dalam menunjuk serta mengawasi kinerja wasit. Semua tim, official, dan penonton menjaga atmosfer kompetisi yang sehat, tanpa tekanan dan intimidasi. Peristiwa ini menjadi pelajaran berharga bagi kita semua agar turnamen HUT RI tahun depan berjalan lebih baik, meriah, dan sportif. Tutup Lisman
Redaksi












